Busuk, aku menutup hidung. Ada puluhan semut hitam yang gotong royong, menggotong remah sisaku semalam. Aku rabun, mataku sembab. Menangisku karna merindumu. Kapan kau kembali? Ayo pulang, aku menunggumu disini. Katamu ini gubuk kita. Bukan, bukan ruangan busuk ini, tapi gubuk kayu disana. Kau menunjuk sebuah gubuk kayu ditengah kota. Aku tersenyum, kau paham betul, yang ku mau. Aku tak mau rematik dihari tua, karena dinginnya keramik lantai bahtera kita. Lalu kau atau aku tak bisa jalan berdua. Kau dan aku berfikiran sama, kita memadu janji. Memagutkan kan dua kelingking yang akan tegar meski ditimpa badai durjana. Kita berjanji, gubuk itu akan kita tempati sampai menua bersama jeratan waktu dan suka duka. Kau kata aku lupa? Tidak! Selalu kuingat, saat-saat kita menikmati senja bersama, melepas senja pulang ke pangkuan alam, menyambut malam dengan penuh kehangatan. Takkan ku lupa, janji padamu untuk setia. Mengapa kau tak juga pulang ke gubuk kita? Aku tak lupa kau j...
Komentar
Posting Komentar